Penugasan RABRAW 2022 Adicitta 60

Nama         : Johannes de Britto Bertrand Valerio Satrio Wibowo

Fakultas    : Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prodi         : Agrobisnis Perikanan

Cluster      : 61


Toleransi Beragama di Indonesia


    Kita tahu bahwa negara Indonesia merupakan negara yang memilik bahasa etnis terbanyak kedua setelah Papua Nugini. Begitu banyak golongan, suku, bangsa, ras, adat dan juga agama. Agama di Indonesia yang diakui antara lain: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Terdapat enam agama yang telah diresmikan di Indonesia, Bagaimana dengan agama yang belum diresmikan? Pastinya lebih banyak lagi dari jumlah agama resmi di Indonesia.

    Dengan agama yang banyak dan beragam seperti itu, kita sebagai bangsa yang bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika diharuskan bisa hidup berdampingan dengan sesama warga negara yang berbeda agama. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah diperlukannya sikap saling menerima dan menghargai dari tiap orang yang berbeda agamanya, sehingga dapat saling membantu, bekerja sama, bergotong royong membangun negara ini lebih baik. Toleransi yang berjalan dengan baik, dapat mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar seribu sembilan ratus empat puluh lima.

    Toleransi diperlukan bukan hanya oleh kelompok minoritas, tetapi untuk setiap manusia. Sebab setiap manusia pada hakikatnya membutuhkan kehidupan yang harmoni. Bayangkan saja ketika semua orang di sekitar mu tidak memiliki sikap toleransi, apa yang akan terjadi? Dimulai dari terjadinya kesalah-pahaman, tidak adanya ketertiban, berbagai macam permusuan terjadi, hingga dinamika kewarganegaraan yang hancur. Begitu banyak masalah yang akan terjadi jika setiap orang tidak memilik sikap toleransi. 

    Mempelajari pentingnya sikap toleransi dalam lingkup yang paling kecil hingga besar, sudah harus dilakukan sejak dini. Semisal saat kita kecil, kita diajarkan untuk saling berteman terlepas dari suku, adat, ras, dan agamanya. Saat kita dewasa, kita lambat-laun akan memahami orang lain yang berbeda dengan kita dari berbagai aspek. Bahkan walaupun kita sedang berada di luar negri, kita juga harus bisa memahami orang yang berbeda kewarganegaraan sekalipun. Maka dari itu tercerminkan bahwa kita adalah warga yang toleransi, saling memahami satu sama lain, dan saling menghargai. Sehingga dunia bisa melihat warga Indonesia yang beragam adalah orang yang toleransi terhadap perbedaan.

    Toleransi beragama bukan berarti kalo kita bisa seenaknya bebas menganut agama tertentu dan besoknya kita menganut agama yang lain atau kita dengan seenaknya bebas mengikuti ritual, perayaan, ibadah dari agama lain. Tapi toleransi beragama bisa dipahami sebagai bentuk rasa pengakuan kita kepada adanya agama-agama lain, selain dari agama kita sendiri dengan segala bentuk sistem, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan agamanya masing-masing.

    Cara untuk mengembangkan sikap toleransi beragama secara umum, dapat kita mulai terlebih dahulu dengan bagaimana cara atau kemampuan kita dalam mengelola, mensikapi perbedaan pendapat yang bisa saja terjadi di lingkungan sekitar kita. Sikap toleransi ini dapat dimulai dengan cara membangun pondasi kebersamaan dan keharmonisan serta menyadari bahwa adanya perbedaan di antara kita. Dan menyadari juga bahwa kita semua ini adalah saudara, entah saudara kandung, saudara sesuku, maupun saudara sebangsa dan setanah air. Dengan begitu maka kita akan timbul rasa kasih sayang, saling memahami, saling pengertian, dan pada akhirnya kita semua akan bermuara pada sikap toleransi.

    Masyarakat Indonesia yang majemuk atau beragam, selalu saja dihadapkan dengan permasalahan sosial berdasarakan pada keberagaman itu sendiri. Sayang sekali masih ada pihak-pihak yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan bersama. Oleh karena itu, selalu saja ada konflik sosial berdasarkan pada identitas golongan, terutama pada identitas agama. Padahal, masing-masing agama mempunyai ajaran, aturan, kebiasaan, ritual, dan kekhasannya tersendiri untuk hidup toleran dan bisa berdampingan dengan penganut agama yang lain.

    Kita sebagai masyarakat Indonesia yang majemuk ini, harus mengetahui ciri atau motif negatif dari pihak yang ingin memecah belah persatuan atau bisa disebut juga dengan adu domba. Adu domba sendiri dilandaskan pada kepentingan pribadi atau golongan tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Di antara lain: menyabarkan isu buruk, menyebarkan hoaks, mengasingkan diri, mengkambing-hitamkan suatu pihak, membuat kerusuhan, penolakkan keras secara anarkis kepada suatu golongan, penggusuran, dan lain-lain. Dengan mengetahui ciri atau motif negatif tersebut, kita diharapkan ke depannya bisa lebih teliti dalam membaca situasi dan kondisi di sekitar. Sehingga kita bisa dengan tepat dan akurat mengambil tindakan yang ada, untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    Cara lain untuk mengembangkan sikap toleransi beragama di Indonesia juga bisa dilakukan dengan mengkampanyekan aksi toleransi beragama di Indonesia. Contoh perilakunya ya seperti saya ini, menulis essai tentang ''Toleransi Beragama di Indonesia" sebagai salah satu bentuk perilaku kampanye. Atau dengan membuat infografis dan poster tentang toleransi beragama, bisa menjadi cara alternatif mengkampanyekan lewat media digital di era yang serba digital ini. Bahkan sekarang kalo mau lebih kreatif lagi, bisa juga menggunakan aplikasi Twitter dan Tiktok. Di sana kalian bisa lebih ekspresif dan lebih kreatif lagi dalam membuat konten seperti Thread Twitter dan Video Kampenye Tiktok. Berbagai aplikasi dan platform yang telah tersedia di era digital ini, membuat kita bisa semakin berkreasi dalam mengkampanyekan tentang toleransi beragama di Indonesia.

    Jika sudah merasa bahwa kita sudah bersikap toleransi terhadap agama lain, dijamin hati, pikiran, jiwa dan raga kita lebih bisa menikmati arti dari hidup yang sebenarnya. Yang pada dasarnya kita diciptakan oleh Sang Pencipta sudah berbeda-beda. Karena dengan kehendak-Nya yang sangat penuh kuasa, bukan mustahil bagi-Nya untuk bisa menyama-ratakan kita. Tapi pada nyatanya, kita berbeda semua dari berbagai aspek seperti agama, ras, suku, adat, bahasa, warna kulit, dan lain-lain. Maka dari itu kita bisa lebih memahami dan menikmati kehidupan ini bersama-sama dengan orang yang berbeda dengan kita. Jika kita yakin dan percaya bahwa saling memahami satu sama lain bisa membawa dampak positif bagi kehidupa kita, maka kita jadikan itu kebiasan baik, bahkan budaya saling menghormati kita lestarin, niscaya kita semua bersama-sama bisa menciptakan lingkungan, negara dan dunia lebih baik ke depannya.

    Informasi yang sangat-sangat sedikit ini, bisa menjadi banyak bahkan lebih banyak lagi. Jika teman-teman semua bisa ikut juga dalam rangka mengkampanyekan aksi Toleransi Beragama ini. Karena keberhasilan dan kesuksesan dalam kampanye bisa terjadi juga karena ada proses timbal balik antara si pengkampanye dengan teman-teman sekalian. Makin banyak yang mendengar, semakin banyak orang yang ikut andil dalam proses kampenye ini, maka semakin banyak pula orang di sekitar kita yang merapkan atau timbul rasa toleransi beragama. 

Orang bijak pernah berkata "Caramu melakukan sesuatu bukanlah satu-satunya cara. Hargailah cara pandang orang lain. Kamu mungkin benar, tetapi mereka juga tidak salah".

Comments